Suspendisse interdum consectetur libero id. Fermentum leo vel orci porta non. Euismod viverra nibh cras pulvinar suspen.

Saprahan: Tradisi makan lesehan yang diakui dunia? Yes!

Beranda // Informasi // Saprahan: Tradisi makan lesehan yang diakui dunia? Yes!
16 November 2025 23:52 Admin

Saprahan: Tradisi makan lesehan yang diakui dunia? Yes!

Saprahan adalah sebuah warisan budaya takbenda yang sangat berharga bagi masyarakat Melayu Pontianak, diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI). Istilah ini berasal dari kata besaprah atau besaprah-saprah yang merujuk pada kegiatan makan bersama secara berhampar atau lesehan. Makna filosofis Saprahan jauh melampaui sekadar ritual makan; ia adalah cerminan luhur dari nilai-nilai kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan, dan persaudaraan. Dalam Saprahan, tidak ada sekat status sosial; semua orang duduk sejajar, berbagi hidangan dari piring saji yang sama. Tradisi ini sarat akan kearifan lokal yang mencerminkan harmoni dalam kehidupan sehari-hari. Secara historis, Saprahan diyakini sudah dilakukan sejak masa Kesultanan Pontianak dan awalnya merupakan bentuk jamuan kehormatan untuk menyambut tamu agung atau untuk merayakan momen sakral. Tata cara Saprahan sangat diatur, mulai dari posisi duduk, urutan penyajian, hingga etika saat mengambil makanan, memastikan semua proses berjalan tertib dan penuh penghormatan.

0c9ca49b-aeaf-4084-8380-f5e0366d8670.jpg

Khususnya di wilayah Kampong Melayu BML (Beting Kuala Mandor), tradisi Saprahan masih dipertahankan dan menjadi bagian integral dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Di BML, Saprahan biasanya dilaksanakan saat perjamuan syukuran besar seperti selamatan kampung, pernikahan, khataman Al-Qur'an, atau menyambut tamu penting yang berkunjung ke kawasan waterfront dan situs-situs bersejarah. Kegiatan Saprahan ini sering menjadi penutup yang hangat setelah acara-acara tradisional lainnya, seperti yang mungkin diselenggarakan di sekitar kawasan BML. Pelaksanaannya melibatkan partisipasi aktif warga, mulai dari menyiapkan hidangan khas Melayu, menata hamparan (alas makan), hingga menyajikan makanan secara bergotong-royong. Kehadiran Saprahan di Kampong Melayu BML tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang otentik, di mana pengunjung dapat secara langsung merasakan kehangatan dan filosofi persatuan yang dihidupkan oleh komunitas setempat.

Tags:

Bagikan: